OPINI SISWA : Penting Ilmu atau Nilai?
OPINI SISWA : PENTING ILMU ATAU NILAI?
Hai, kawan Muda! Untuk pembahasan kali ini saya akan berbagi opini tentang pandangan mana yang penting antara pendidikan karakter dengan nilai materi. Nah, agar teman-teman semua semakin kaya akan wawasan dan mampu melihat dari berbagai sudut pandang, simak baik-baik ya...
Pernah tidak kalian berpikir bagaimana pandangan orang tua kepada anak, pandangan orang tua kepada guru, dan sebaliknya? Terkadang greget, di saat orang tua kedua kita atau guru bilang bahwa menjadi pribadi yang berkarakter itu penting, tapi dibaliknya ada sosok orang tua pertama yang mengklaim anak harus mendapat nilai tinggi atau bahkan ranking terbaik dari yang terbaik. Ada yang berpendapat begini,
Tuntutan yang selalu ada bagi pelajar, bukan beban, tetapi bagaimana? Sekolah WAJIB 12 tahun namun seakan kita menghamba pada nilai? Acuan pintar atau tidaknya tergantung pada nilai? Jika melihat hal seperti ini, tentu akan bertanya lagi di pikiran kita,
Lagi-lagi Muncul Opini seperti ini,
" Baru umur segini tapi mikirnya udah segitu? Ga cocok sama umurnya, sok dewasa, sok tau?"
" Memang berpikir kritis ada batasan umurnya?"
Kita sudah berada di era dimana kita diberikan hak kebebasan untuk berpikir dan berpendapat, tentu didasari dengan akal sehat dan data yang valid, namun mengapa masih saja ada beberapa yang sepertinya masih berpikir standar, bukannya memberikan kritikan dan dukungan.
Justru menjadi kontra seakan sudah terjebak dengan paradigma lama, terjebak oleh modernisasi yang salah tafsir, sehingga tidak mampu mengontrol dirinya hingga akhirnya berbuat semaunya sendiri, kalian bisa lihat sendiri contohnya dimasa sekarang,
Tentu teman-teman sudah tidak asing melihat ada beberapa diantara kalian taui bahkan diri kalian sendiri yang termasuk dalam contoh ini,
Kalian tentu sudah melihat berbagai kehebohan di media sosial, begitu ada pertemuan dua pihak yang saling beroposisi, semuanya saling menyalahkan padahal kalian satu bangsa, namun meributkan satu hal kecil yang hebat dari bangsa lain, apakah dengan semakin mengeluarkan kata-kata hatespeech kalian sudah merasa benar? Tidak adakah keinginan untuk saling intropeksi diri masing-masing?
Ini hanya opini, silahkan berikan tanggapanmu ya sobat Muda!
Menurutku, mekanisme pendidikan kita itu seakan memaksa kita untuk berkompetisi dan bukan kolaborasi.
Contoh yang mudah untuk kalian,
LALU? INI SALAH SIAPA??
Salah kita para pelajar atau orang tua yang bekerja? Ada benarnya memang dapat ranking atau nilai bagus sama saja balas budi pada orang tua buat biaya pendidikan kita, tetapi apakah itu harus?
12 tahun sekolah itu-itu saja, awal semester hahahihi, akhir semester kompetisi..?!
ADA YANG TERLUPA?
Dunia kerja menekankan pada kemampuan kita untuk kolaborasi, diminta untuk bisa multitasking dan bisa bekerjasama dengan yang lain, Kamu juga perlu memiliki karakter yang baik, ramah, serta terbuka akan segala situasi dan kondisi. Karakter setiap orang di dunia kerja sangatlah beragam, maka suka atau tidak suka, Kamu harus bisa menghadapi orang-orang seperti itu. Di sinilah mengapa mental Kamu harus kuat.
What's the POINT?
Pendidikan karakter itu sendiri merupakan proses pembentukan karakter yang memberikan dampak positif terhadap perkembangan emosional, spiritualitas, dan kepribadian seseorang. Oleh sebab itu, pendidikan karakter atau pendidikan moral itu merupakan bagian penting dalam membangun jati diri sebuah bangsa.
Menurut Lickona ada tujuh alasan mengapa pendidikan karakter itu harus disampaikan:
Ketika Anda memilih mengeyam pendidikan di bangku perguruan tinggi, sudah menjadi konsekuensi bahwa Anda harus mendapat dan memperjuangkan nilai yang tinggi.
Ada sebuah persepsi yang harus diluruskan. Bahwa setiap aspek penilaian pendidikan itu tidak bisa diurai satu per satu. Karakter positif, nilai yang tinggi, dan kemampuan menjadi satu paket yang harus dimiliki setiap siswa atau mahasiswa. Dalam bahasa lainnya kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Sebuah kekeliruan apabila kita menitikberatkan pada salah satu aspek saja. Misal afektif. Kita memandang karakter adalah yang terpenting dan terutama, sedangkan kognitif (nilai) tidak begitu penting.
Ketiga aspek tersebut menjadi kesatuan yang utuh yang harus dimiliki setiap orang yang bersekolah atau berkuliah. Ketiganya harus menjadi fokus utama, tanpa memilah dan memandang salah satu lebih penting.
Hidup ini harus ideal, dan proporsional. Semua harus ditempatkan secara tepat. Termasuk menempatkan dan memosisikan nilai dalam proses pendidikan kita. Janganlah kita terlalu acuh sehingga abai terhadap apa yang sudah menjadi tanggungjawab kita. Jangan pula terlalu berlebihan, menganggap nilai sebagai dewa kehidupan.
Jadi?
Bagaimana menurutmu kawan Muda? Sebenarnya, apa pun pandangan kita terhadap urgensi nilai dalam sebuah proses pendidikan, kehidupan bersekolah dan berkuliah akan terus berlanjut. Dan ketika kita memilih untuk duduk di bangku sekolah atau kuliah, seketika tanggungjawab sebagai insan intelektual jatuh pada diri kita. Tanggungjawab tersebut harus diwujudkan dan dibentuk dalam keseharian.
Hai, kawan Muda! Untuk pembahasan kali ini saya akan berbagi opini tentang pandangan mana yang penting antara pendidikan karakter dengan nilai materi. Nah, agar teman-teman semua semakin kaya akan wawasan dan mampu melihat dari berbagai sudut pandang, simak baik-baik ya...
Pernah tidak kalian berpikir bagaimana pandangan orang tua kepada anak, pandangan orang tua kepada guru, dan sebaliknya? Terkadang greget, di saat orang tua kedua kita atau guru bilang bahwa menjadi pribadi yang berkarakter itu penting, tapi dibaliknya ada sosok orang tua pertama yang mengklaim anak harus mendapat nilai tinggi atau bahkan ranking terbaik dari yang terbaik. Ada yang berpendapat begini,
Manusia tidak akan pernah puas dengan sesuatu yang dimilikinya, ia akan selalu berusaha mendapatkan lebih dari sebelumnya, karena hal itu sudah menjadi human nature.
Tuntutan yang selalu ada bagi pelajar, bukan beban, tetapi bagaimana? Sekolah WAJIB 12 tahun namun seakan kita menghamba pada nilai? Acuan pintar atau tidaknya tergantung pada nilai? Jika melihat hal seperti ini, tentu akan bertanya lagi di pikiran kita,
Orang pintar minim moral atau orang bermoral minim akal?
Lagi-lagi Muncul Opini seperti ini,
" Baru umur segini tapi mikirnya udah segitu? Ga cocok sama umurnya, sok dewasa, sok tau?"
" Memang berpikir kritis ada batasan umurnya?"
Kita sudah berada di era dimana kita diberikan hak kebebasan untuk berpikir dan berpendapat, tentu didasari dengan akal sehat dan data yang valid, namun mengapa masih saja ada beberapa yang sepertinya masih berpikir standar, bukannya memberikan kritikan dan dukungan.
Justru menjadi kontra seakan sudah terjebak dengan paradigma lama, terjebak oleh modernisasi yang salah tafsir, sehingga tidak mampu mengontrol dirinya hingga akhirnya berbuat semaunya sendiri, kalian bisa lihat sendiri contohnya dimasa sekarang,
Tentu teman-teman sudah tidak asing melihat ada beberapa diantara kalian taui bahkan diri kalian sendiri yang termasuk dalam contoh ini,
- Menjadi FANS FANATIK yang akhirnya justru melahirkan karakter yang arogan, emosional, mudah terprovokasi dan berakhir merusak?" Jujur saya tidak ingin menyalahkan, namun tolong lihat dari sudut pandang berbeda, jangan sepadan dengan ego, hilangkan berpikir subjektif, mari berpikir objektif! Untuk apa bermain api dengan saudara sendiri namun berpihak pada lawan yang kau sebut kawan..
Kalian tentu sudah melihat berbagai kehebohan di media sosial, begitu ada pertemuan dua pihak yang saling beroposisi, semuanya saling menyalahkan padahal kalian satu bangsa, namun meributkan satu hal kecil yang hebat dari bangsa lain, apakah dengan semakin mengeluarkan kata-kata hatespeech kalian sudah merasa benar? Tidak adakah keinginan untuk saling intropeksi diri masing-masing?
Ini hanya opini, silahkan berikan tanggapanmu ya sobat Muda!
Menurutku, mekanisme pendidikan kita itu seakan memaksa kita untuk berkompetisi dan bukan kolaborasi.
Contoh yang mudah untuk kalian,
- Adakah dari kalian yang sekelas dan saling berkompetisi untuk menjadi yang terbaik?
- Ada saja beberapa teman yang tidak menyukai kalian karena menganggapmu orang yang sok pintar..?
- Kalau guru memberi tugas, beberapa teman pasti mengeluh dan malas untuk mengerjakan, namun endingnya tetap dikerjakan dong tapi caranya ya satu, MENCONTEK.
- Kalau guru memberi ulangan, pasti ingin waktunya diundur terus agar tidak jadi ulangan, padahal yang butuh nilai itu ya kalian sendiri, tetapi ya jika akhirnya diadakan, endingnya juga sama, HP dilaci, buku japlakan, atau diskusi dengan teman... wkwkw guru seolah diam namun cctv merekam, yaa bagi yang di kelas kalian mempunyai cctv.
- Saat hasil rapot keluar, pasti akan bertanya pada wali kelas, bagaimana ranking saya bu? Apakah ada ranking bu? Orang tua pun tak jauh beda
- Gimana kamu sekolah nak, NILAI mu bagaimana? Nanti RANKING atau tidak? Awas kalau tak masuk ranking ya..
LALU? INI SALAH SIAPA??
Salah kita para pelajar atau orang tua yang bekerja? Ada benarnya memang dapat ranking atau nilai bagus sama saja balas budi pada orang tua buat biaya pendidikan kita, tetapi apakah itu harus?
12 tahun sekolah itu-itu saja, awal semester hahahihi, akhir semester kompetisi..?!
ADA YANG TERLUPA?
Dunia kerja menekankan pada kemampuan kita untuk kolaborasi, diminta untuk bisa multitasking dan bisa bekerjasama dengan yang lain, Kamu juga perlu memiliki karakter yang baik, ramah, serta terbuka akan segala situasi dan kondisi. Karakter setiap orang di dunia kerja sangatlah beragam, maka suka atau tidak suka, Kamu harus bisa menghadapi orang-orang seperti itu. Di sinilah mengapa mental Kamu harus kuat.
What's the POINT?
Pendidikan karakter itu sendiri merupakan proses pembentukan karakter yang memberikan dampak positif terhadap perkembangan emosional, spiritualitas, dan kepribadian seseorang. Oleh sebab itu, pendidikan karakter atau pendidikan moral itu merupakan bagian penting dalam membangun jati diri sebuah bangsa.
Menurut Lickona ada tujuh alasan mengapa pendidikan karakter itu harus disampaikan:
- Merupakan cara terbaik untuk menjamin anak-anak (siswa) memiliki kepribadian yang baik dalam kehidupannya;
- Merupakan cara untuk meningkatkan prestasi akademik;
- Sebagian siswa tidak dapat membentuk karakter yang kuat bagi dirinya di tempat lain;
- Mempersiapkan siswa untuk menghormati pihak atau orang lain dan dapat hidup dalam masyarakat yang beragam;
- Berangkat dari akar masalah yang berkaitan dengan problem moral-sosial, seperti ketidaksopanan, ketidakjujuran, kekerasan, pelanggaran kegiatan seksual, dan etos kerja (belajar) yang rendah;
- Merupakan persiapan terbaik untuk menyongsong perilaku di tempat kerja; dan
- Mengajarkan nilai-nilai budaya merupakan bagian dari kerja peradaban
Ketika Anda memilih mengeyam pendidikan di bangku perguruan tinggi, sudah menjadi konsekuensi bahwa Anda harus mendapat dan memperjuangkan nilai yang tinggi.
Ada sebuah persepsi yang harus diluruskan. Bahwa setiap aspek penilaian pendidikan itu tidak bisa diurai satu per satu. Karakter positif, nilai yang tinggi, dan kemampuan menjadi satu paket yang harus dimiliki setiap siswa atau mahasiswa. Dalam bahasa lainnya kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Sebuah kekeliruan apabila kita menitikberatkan pada salah satu aspek saja. Misal afektif. Kita memandang karakter adalah yang terpenting dan terutama, sedangkan kognitif (nilai) tidak begitu penting.
Ketiga aspek tersebut menjadi kesatuan yang utuh yang harus dimiliki setiap orang yang bersekolah atau berkuliah. Ketiganya harus menjadi fokus utama, tanpa memilah dan memandang salah satu lebih penting.
Hidup ini harus ideal, dan proporsional. Semua harus ditempatkan secara tepat. Termasuk menempatkan dan memosisikan nilai dalam proses pendidikan kita. Janganlah kita terlalu acuh sehingga abai terhadap apa yang sudah menjadi tanggungjawab kita. Jangan pula terlalu berlebihan, menganggap nilai sebagai dewa kehidupan.
Jadi?
Bagaimana menurutmu kawan Muda? Sebenarnya, apa pun pandangan kita terhadap urgensi nilai dalam sebuah proses pendidikan, kehidupan bersekolah dan berkuliah akan terus berlanjut. Dan ketika kita memilih untuk duduk di bangku sekolah atau kuliah, seketika tanggungjawab sebagai insan intelektual jatuh pada diri kita. Tanggungjawab tersebut harus diwujudkan dan dibentuk dalam keseharian.



Posting Komentar
Posting Komentar